Profil

Rabu, 07 Maret 2012

Perginya "Juru Damai" KH Abdullah Faqih



Oleh Edy M Ya`kub
(Kompas.com edisi 1 Maret 2012)


Innalillahi, pengasuh Pesantren Langitan, Widang, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, KH Abdullah Faqih (82), telah pergi meninggalkan ribuan santri dan pengagumnya pada Rabu (29/2/2012) pukul 19.00 WIB. "Abah (ayah) meninggal dunia karena memang sudah 'sepuh' (sangat tua), tetapi ayah memang sempat masuk Graha Amerta RSUD dr Soetomo Surabaya pada 2 Oktober 2011 hingga sekitar seminggu," ucap KH Ubaidillah Faqih, putra almarhum KH Abdullah Faqih. Salah seorang dari 10 putra almarhum itu menceritakan, ayahandanya menjalani perawatan di Graha Amerta setelah mengalami stroke ringan akibat jatuh, tetapi setelah membaik akhirnya menjalani perawatan di rumah hingga meninggal dunia pada 29 Februari 2012. 

Para wartawan yang ikut menjadi saksi saat-saat melambungnya nama "guru spiritual" almarhum Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pada awal Era Reformasi (1998) itu akan tahu betapa almarhum tidak menyukai publikasi. "Kami menerima pesan dari kiai, kiai tidak bersedia menerima wartawan," ujar santri almarhum bila ada wartawan yang datang untuk mewawancarainya.

Ya, nama Kiai Abdullah Faqih mencuat menjelang Sidang Umum MPR 1998, terutama berkaitan dengan pencalonan Gus Dur sebagai presiden, sehingga para wartawan pun memburunya. Saat itu, suara kalangan "nahdliyin" (warga NU) terbelah, ada yang mendukung pencalonan Gus Dur dan ada yang sebaliknya. Dalam situasi seperti itu, sejumlah kiai sepuh NU mengadakan pertemuan di Langitan sehingga muncul istilah "Poros Langitan" yang fatwanya sangat berpengaruh pada pencalonan Gus Dur. Pesan Kiai Abdullah Faqih untuk Gus Dur itu dibawa KHA Hasyim Muzadi (mantan Ketua Umum PBNU). Pesannya, "Kalau memang Gus Dur maju, ulama akan mendoakan." Restu Kiai Faqih itu membuat Gus Dur meneteskan air mata dan memeluk KHA Hasyim Muzadi. "Sampaikan salam hormat saya kepada Kiai (Faqih). Katakan, Abdurrahman sampai kapan pun tetap seorang santri yang patuh kepada ucapan kiai," tutur Gus Dur kepada Hasyim Muzadi.

Namun, para wartawan tidak pernah menerima cerita itu langsung dari Kiai Faqih karena kiai yang mengasuh lebih dari 3.000 santri itu memang tidak suka publikasi. Di mata para santri, "sang guru" memang sederhana, istiqomah, dan alim. Kesederhanaan itu terlihat dari tempat tinggalnya yang terbuat dari kayu berwarna janur kuning dengan ukuran sekitar 7 x 3 meter. Di dalamnya ada seperangkat meja kursi kuno dan dua lemari berisi kitab-kitab.

Kiai Faqih lahir di Dusun Mandungan, Desa Widang, Tuban. Saat kecil, ia lebih banyak belajar kepada ayahandanya sendiri, KH Rofi`i Zahid. Ketika beranjak remaja, Kiai Faqih "nyantri" kepada Mbah Abdur Rochim di Lasem, Rembang, Jawa Tengah. Kiai Faqih juga pernah tinggal di Mekkah, Arab Saudi, untuk belajar kepada Sayid Alwi bin Abbas Al-Maliki, ayah Sayid Muhammad bin Alwi Al-Maliki. Setelah itu, Kiai Faqih kembali ke Pesantren Langitan yang didirikan pada l852 oleh KH Muhammad Nur, asal Desa Tuyuban, Rembang. Pesantren Langitan yang terletak di tepi Bengawan Solo yang melintasi Desa Widang (dekat Babat Lamongan) itu dikenal sebagai pesantren ilmu alat.

Para generasi pertama NU pernah belajar di Langitan, di antaranya KH Muhammad Cholil (Bangkalan), KH Hasyim Asy`ari, KH Wahab Hasbullah, KH Syamsul Arifin (ayah KH As`ad Syamsul Arifin), dan KH Shiddiq (ayah KH Ahmad Shiddiq). Kiai Faqih (generasi kelima) memimpin Pesantren Langitan sejak l971, menggantikan KH Abdul Hadi Zahid yang meninggal dunia karena usia lanjut. Kiai Faqih didampingi KH Ahmad Marzuki Zahid, yang juga pamannya.

Meski tetap mempertahankan nilai-nilai salaf, Pesantren Langitan di era Kiai Faqih lebih terbuka. Ia mendirikan pusat pelatihan bahasa Arab, kursus komputer, mendirikan taman tanak-kanak (TK) dan taman pendidikan Al Quran (TPA). Ada juga badan usaha milik pondok berupa toko induk, kantin, dan wartel. Kiai bersahaja itu juga mengarahkan pesantrennya agar lebih dekat dengan masyarakat, di antaranya ia mengirim dai ke daerah-daerah sulit di Jawa Timur dan luar Jawa. Selain itu, Kiai Faqih juga menginstruksikan para santrinya shalat Jumat di kampung-kampung, lalu membuka pengajian umum di pesantren di dekatnya.


Sosok teladan

Di balik kesederhanaan dan sikap antipublikasi, Kiai Abdullah Faqih juga merupakan sosok teladan yang mementingkan masyarakat luas. Untuk kepentingan masyarakat itulah, Kiai Faqih pernah meminta Gus Dur mencium tangan pamanda KH Yusuf Hasyim yang saat itu berseberangan dengannya. Gus Dur pun patuh kepada "sang guru". Tidak jauh dari itu, Kiai Faqih jugalah yang mengajak Gus Dur dan KHA Hasyim Muzadi untuk bersalaman ketika keduanya "bermasalah".

Sikap Kiai Faqih yang sederhana, antipublikasi, dan juga suka damai itu diakui Ketua Umum DPP PKNU H Choirul Anam yang akrab disapa Cak Anam. "Saya sendiri sempat menjenguk beliau pada hari Ahad (26/2) lalu," kata salah seorang tokoh Ansor NU Jatim yang dikenal sebagai "orang dekat" Kiai Abdullah Faqih itu. Pada pertemuan terakhir itu, katanya, dirinya sempat bertemu selama lima menit, tetapi dirinya sempat tertegun karena Kiai Abdullah Faqih sempat menangis. "Almarhum mengatakan kamu ke sini (meminta untuk mendekat). Beliau meminta saya untuk berjuang terus. Saya izinkan kamu, saya ridhoi, kamu berjuang terus, jangan khilaf, ajak bersatu semua kawan," katanya, mengutip pesan almarhum.

Ditanya tentang sosok Kiai Abdullah Faqih, Cak Anam yang juga mantan wartawan itu menilai Kiai Abdullah Faqih merupakan sosok yang jarang berbicara tentang kedudukan (jabatan) dan "dunia" (uang). "Beliau selalu mementingkan kejujuran dan moralitas. Kalau mendapat sumbangan dari orang, beliau selalu memilah, menyisihkan, dan akhirnya dikembalikan kepada kepentingan masyarakat," katanya. Bahkan, kata penulis buku "babon" tentang NU itu, Kiai Abdullah Faqih sering menyumbang kegiatan PKNU dengan uang pribadi. "Ketika PKNU akan bermuktamar, beliau bertanya apa sudah siap? Beliau pun menyerahkan sumbangan," katanya. Oleh karena itu, kepergian Kiai Abdullah bukan hanya PKNU yang kehilangan. "Bukan hanya PKNU atau NU yang kehilangan beliau, melainkan bangsa ini kehilangan sosok teladan yang lebih memikirkan orang lain daripada dirinya," katanya.

Rasa kehilangan juga dilontarkan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj. Ia menyatakan wafatnya KH Abdullah Faqih merupakan kehilangan besar bagi bangsa Indonesia.
"Wafatnya beliau merupakan kehilangan besar bagi kita, bukan hanya NU, melainkan juga bangsa Indonesia," katanya. Hal senada juga diungkap Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muslimat Nahdlatul Ulama Khofifah Indar Parawansa. Ia mengatakan, Indonesia kehilangan salah satu tokoh penyangga kekuatan spiritual dengan wafatnya KH Abdullah Faqih. "Kiai Faqih merupakan salah satu penyangga kekuatan spiritual bangsa Indonesia. Saat negara mengalami berbagai krisis, beliau menggerakkan istighatsah dan berbagai wirid atau amalan keagamaan untuk memohon pertolongan Allah," katanya.

Di lingkungan NU, kata Khofifah, Kiai Abdullah Faqih merupakan sosok kiai sepuh yang menjadi panutan, sedangkan di pentas nasional Kiai Faqih mulai dikenal dan didengar serta diperhatikan berbagai pemikiran kebangsaannya saat awal reformasi. "Gus Dur sendiri sering menjadikan fatwa Kiai Faqih sebagai referensi gerakan reformasi, misalnya saat mendirikan PKB dan saat mengambil keputusan pencalonan sebagai presiden," katanya.

Senin, 05 Maret 2012

Apakah Anda, Mengapa Anda



Apakah Anda, Mengapa Anda 1)
Oleh: Mohamad Sobary 2)


Apakah Anda dengki melihat gula, karena gula bisa menimbulkan sakit kencing manis? Mengapa Anda tak mengubah pola makan dan olahraga sebagaimana nasihat dokter, sehingga hidup Anda bebas dari kencing manis, dan dari kedengkian yang justru berbahaya karena bisa merusak hati dan cara Anda memandang dunia?
Apakah Anda dengki melihat minyak kelapa, karena minyak kelapa dianggap (oleh penguasa pasar yang serakah) bisa menimbulkan kolesterol dan membahayakan jantung? Mengapa Anda tak mencermati kekeliruan fatal dalam pola makan umat anusia, bahwa kini pola makan bangsa-bangsa Asia, Melanesia, dan Afrika salah karena mereka ingin tampil “modern” seperti orang Amerika dan mengukuti pola makan Amerika, sehingga bangsa-bangsa ini sekarang juga banyak mengidap kegemukan dan sakit jantung seperti orang Amerika? Bangsa-bangsa Asia, Afrika dan Melanesia keliru karena mereka meninggalkan tradisi mapan yang diwariskan nenek moyang, yaitu tidak lagi mengonsumsi kelapa seperti dahulu kala, dan tak mau minum minyak kelapa untuk kesehatan.
Dalam sejarah perdagangan kita, kopra kita yang sangat unggul dimanipulasi di pasar Amerika, dengan label-label menyesatkan: minyak kelapa –minyak tropis—mengandung bahaya kolesterol. Maka, dagangan minyak olahan kita maupun kopra yang masih mentah, digasak di pasaran. Padahal minyak kelapa justru bersih dari kolesterol.
Maka kita bisa kembali ke tradisi sebelumnya, minum apa yang mereka sebut “kolesterol” tadi, agar kita bebas dari kolesterol. Kini, di dunia akademis kita terbuka lebar kebenaran, setelah para peneliti menemukan bahwa minum minyak kelapa murni—artinya minum “kolesterol” tadi, membikin—demi Tuhan—kita bebas dari kolesterol. Mengapa Anda tidak percaya, nasihat untuk minum VCO, minyak kelapa murni, itu sebuah kearifan yang datang dari tradisi lama kita sendiri, yang mengandung hikmah dan kebijaksanaan yang tak terukur dalamnya?
Apakaha Anda ingin menjadi Si Malin Kundang, yang silau kepada modernitas, dan memuja obat-obatan bikinan pabrik “modern” sambil melecehkan jamu, dan dengan cepat menempelkan di punggung jamu itu label ‘tradisional’? Mengapa Anda tak menyadari bahwa para mahatabib kita, yang membikin jamu-jamu itu, menguasai pemikiran, seni, dan kemampuan teknis, serta kesadaran makrokosmos yang dalam, yang jika diberi label, esensinya justru supramodern: sudah modern di banyak abad sebelum abad ‘modern’ lahir di bumi yang salah, oleh para pemikir ilmiah yang salah, karena mereka belum bisa belajar menunduk, supaya kepala-kepala mereka tak terbentur bintang-bintang di langit bikinan Tuhan, yang ilmu-ilmu-NYA mahadalam, dan tak habis dikaji dengan menggunakan air laut di seluruh permukaan bummi, ditambah tujuh kali jumlah itu sebagai tintanya, dibantu pohon-pohon di hutan-hutan di seluruh dunia, ditambah tujuh kali jumlah itu sebagai penanya, tapi ilmu Tuhan belum lagi akan habis tertulis?
Megapa mereka berani melecehkan karya para mahatabib Indonesia, yang dengan khidmat dan mendalam, juga menyerap—betatapun terbatasnya—kearifan dan ilmu-ilmu Tuhan, yang mahahalus dan mahadalam, yang tak mungkin habis ditulis manusia, hingga kerika bumi dan seluruh planet dalam tata surya ini digulung lagi dan digenggam-NYA?
Apakah Anda mendengki garam, karena garam bisa membuat darah tinggimu lebih buruk, dan karena itu kau, Menteri, mengimpor garam Australia, yang membuat kau memperoleh persenan dalam jumlah sangat besar dan membuatmu menjadi semakin kaya, tanpa menimbang derita para pembuat garam di sepanjang pantai di negeri kita yang menjadi penganggur tak bermartabat sebagai manusia? Mengapa kau tak belajar  dari Gandhi, yang dengan garam bisa memompa kemandirian bangsanya, sehingga India yang terjajah tak mau lagi mengonsumsi garam bikinan negeri penjajah, karena sesungguhnya hanya mudah bagi rakyat untu membikin garam dari pantai-pantai di negeri India sendiri? Mengapa garam rakyat kita sendiri kau bikin mati  karena kebijakan perdagangan yang lebih membela kepentingan asing, dan dirimu sendiri?
Mengapa kebijakan pemerintah kita sendiri justru menjadi instrumen penjajahan, dan membikin bangsa kita menjadi kere di tengah para kere dunia, padahal kita punya pantai-pantai terpanjang, yang tak dimiliki bangsa lain, dan di sanalah ‘tambang’ garam yang tak pernah habis itu tersedia? Negeri garam, mengapa mengimpr garam?
Mengapa kebijakan yang mengkhianati konstitusi seperti ini, di negeri ini tak dianggap tindakan yang bersiat ‘mencuri’? Kentang kita lebih baik dari kentang mana pun, tapi mengapa kau mengimpor kentang negeri asing, dan membikin kaya bangsa asing? Jeruk, jambu, kelengkeng, mangga, pepaya, apa kurangnya di negeri kita, hingga kita harus mengimpor, dan kebijakan itu membikin para petani buah kita merana?
Apa penyakit yang kita idap? Kehilangan rasa kebangsaan, kehilangan rasa kemanusiaan atau kebanyakan watak serakah, yang membuat kita tak peduli bangsa kita mati?
Apakah Anda mendengki asap rokok, yang mengandung radikal bebeas yang berbahaya, tapi tak peduli terhadap asap pabrik-pabrik dan asap motor dan mobil-bobil yang meyergap hidung Anda secara langsung, padahal emisi kendaraan bermotor juga – bahkan lebih—membawa dengan gembira bibit kanker di perut, di usus, di kandungan, di payudara, dan di mana saja mereka hinggap?
Mengapa Anda mendengki asap rokok yang mengandung bahaya bagi kesehatan nafas kita, tapi diam seribu bahasa terhadap narkotika dan obat-obat terlarang lainnya, yang sering mendadak sontak menimbulkan kematian, atau membikin tolol, koplo, yang begitu luas konsumennya, dan jelas mengancam kelangsungan hidup bangsa kita?
Mengapa Anda tak bisa bersikap agak dingin, dan agak adil terhadp kedua fenomena itu? Mengapa sikap patriotik Anda untuk menjaga kesehatan sesama manusia dan kesehatan masyarakat pada umunya sedemikian berat sebelah, tanpa peduli akan kenyataan bahwa di tingkat perdagangan dunia, semangat mematikan kretek kita –untuk dikuasai dan dimiliki orang-orang serakah—begitu tinggi? Seperti pengalaman minyak dan kopra kita, dan banyak mata dagangan kita yang kini sudah hancu luluh, tapi berkembang, jaya, dan membikin kaya raya bangsa lain yang sudah kaya?
Dalam sekitar lima tahun terakhir ini, mereka yang anti kretek dan mereka yang membela kretek maupun tembakau, bagaikan dua kubu yang siap saling mengganyang. Padahal, andaikata masing-masing bisa memenangkan kepentingannya, misalnya golongan anti-kretek menang, itu pun akhirnya hanya akan membukakan peluang bagi monopoli kretek di tangan bangsa asing, yang licik, yang sudah lebih duapuluh tahun mengincar mata dagangan itu untuk dimiliki sendiri dan dimonopoli di tingkat dunia, demi keserakahan yang tak terbatas. Mereka telah sejak lama melakukan lobi di mana-mana, dan tak enggan mengeluarkan dana besar demi mematikan kretek kita, dan mebiayai siapa saja yang bisa membantu mereka mencekik kretek ini agar mudah mereka kuasai.
Dimensi politik ekonomi ini mustahil tak kita ketahui. Ini menjadi ancaman bagi harga diri kita, bagi warisan kebudayaan kita. Mustahl kita tak mahu bahwa di balik ini terletak duit konkret, yang bisa kita pakai di dalam negeri, untuk kesejahteraan sesama bangsa kita. Mengapa pemerintah culas, menggunakan uang cukai rokok dan cengkeh yang besar itu untuk membunuh tanaman tembakau milik rakyat yang harus dilindungi pemerintah? Dan ketika pemerintah selingkuh dari tanggung jawab seperti ini, mengapa kita, golongan terpelajar, diam seribu bahasa terhadap penderitaan petani tembakau, yang adalah bangsa kita juga?
Kita ini bangsa Indonesia, dan warga negara Indonesia. Kita taat aturan. Kita taat pada apa yang dianggap baik bagi seluruh bangsa. Diadakannya auran mengenai temapt merokok itu baik bagi kesehatan dan kita terima dengan tangan terbuka. Kita butuh sehat. Kita butuh hidup lebih lama. Tapi marilah aturan itu kita bikin sendiri. Jangan hendaknya aturan itu dibikinkan bangsa lain, demi agenda lain yang lebih besar, dan demi mencekik kita. Duit sogokan asing itu hanya benda, yang mematikan jiwa kita, dan kebebasan kita untuk hidup bermasyakarat dan berbangsa. Duit itu tak akan selamanya ada di tangan kita. Kembalikan jiwa kita dan kebebasan kita dari pengaruh asing, apa pun wujudnya.
Dua kubu yang terdiri dari rata-rata orang terpelajar dan anggota kelas menengah, mungkin bahkan menengah atas di masyarakat kita, mengapa begitu gigih untuk mengalahkan yang lain, untuk pada akhirnya tak mendapatkan apa-apa, kecuali: kita biarkan pemerintah kita didikte bangsa asing, dan kehilangan kemandirian, karena setiap langkah perundangan dan aturan yang  dibuat, kiblatnya adalah kepentingan bangsa asing.
Mengapa kita tak merasa malu mengaku sebagai bangsa yang merdeka, dari sebuah negara merdeka? Satu dari dua kubu ini mungkin merasa tidak enak bila kalah. Mungkin kalah akan membuat mereka malu. Tapi mengapa Anda tak ingat Puntadewa, yang tak mau menang dalam Bharatayudha, bila untuk menang syaratnya harus rela culas, tidak jujur, dan tidak tulus terhadap kehidupan, dan lebih penting, tidak tulus pada diri sendiri? Di mana ‘barang’ bernama Si Tulus itu selama ini?
Mungkin kita tak akan lupa, kita bisa bohong pada orang lain. Tapi mengapa kita mau mencoba lupa,  bahwa kita tak bisa bohong pada diri sendiri?

1)                Judul Epilog dalam Buku “Membunuh Indonesia, Konspirasi Global Penghancuran Kretek”
2)                Penulis adalah Budayawan dan mantan Kepala LKBN Antara

Rabu, 29 Februari 2012

AKU




Aku
Siapakah aku??
Apakah aku sebongkah batu??
Kiranya tidak
Lalu...
Siapakah aku??

Aku tiba-tiba saja ada
Tersadar diriku bahwa aku ada
Kenapa ada??
Diadakankah??
Atau mengada-ada?
Ada atau tiada
Ada tiada
Dari ada menjadi tiada
Ada lalu tiada
Tiada lalu ada

Berarti aku tiada
Tiada yang menjadi ada
Lalu siapa yang sungguh ada??
Yang adanya tanpa tiada?
Ada ada ada
Dan terus ada
Itukah Yang Mahaada??
Yang menciptakan tiada menjadi ada
Karena sungguh-sungguh ada

Maka segala puji bagi Yang Mahaada
Dan tiada puji bagi yang hanya “ada”

Jakarta 28 Feb 2012

ISLAM DALAM PESONA SENI




Oleh : Abdul Munir Mulkhan *)

Seni dalam bentuk syair, lukisan, prosa atau lainnya yang indah membuat orang akan merasa lebih nyaman dalam melakukan suatu tindakan. Keindahan sering mendorong seseorang secara sukarela melakukan sesuatu tindakan meski kadang harus membayar mahal. Pembacaan kitab suci Al Quran dengan suara merdu bisa membuat seseorang terpesona lalu mencoba mencari tahu makna baris-baris ayat yang dibaca tersebut.

Manusia memiliki beragam cara untuk memahami persoalan, merespons apa yang dihadapi, mengkriet sesuatu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Hidup manusia terus berproses sepanjang waktu hampir tanpa henti sebagai sebuah kebudayaan. Allah seolah terus mencipta sesudah manusia lahir ke bumi. Lahirlah beragam daya kreasi yang bernilai indah sebagai bagian dari sunnatullah; hukum alam sebagai hukum Tuhan.

Keindahan bisa menghiasi pemikiran, cara, dan narasi serta pilihan kata saat mengungkap hasil pemikiran tersebut. Seringkali orang bersetuju dengan apa yang dikatakan seseorang yang lain, tetapi enggan mengikuti pendapat itu hanya karena diucapkan dengan nada dan pilihan kata yang kasar. Sebaliknya, seseornag bisa tidak bersetuju dengan pendapat seseorang yang lain tapi tidak menolaknya hanya karena disajikan dalam susunan dan pilihan kata nan indah. Seni memiliki sendiri daya pesona sendiri yang membuat seseorang tidak melakukan atau melakukan tindakan.

Demikian pula halnya dengan praktik Islam dalam wujud perilaku atau tutur kata serta bahasa tubuh yang indah yang berseni bisa membangkitkan seseorang memahami dan menyadari Islam lebih baik. Begitulah seorang yang sebut saja sebagai orang “kafir”, tapi piawai melantunkan puji-puji atas Allah dan begitu lancar menjelaskan syair-syair Jalalluddin al-Rumi seperti yang pernah saya jumpai pada warga Australia.

Dengan cara berpikir seperti itu, kita mencoba memahami fakta historis tentang dua laki-laki berikut. Dikisahkan, dua ornag teman sepermainan yang lahir dan besar dari dan dalam keluarga yang berbeda, sebut saja namanya Darma dan Nur. Sewaktu kecil mereka sering bermain bersama seperti anak-anak kampung lain. Selepas SMP keduanya tidak pernah bertemu untuk waktu cukup lama akibat dari pilihan sekolah di kota yang berbeda. Keduanya pemeluk Islam yang tergolong taat, namun mereka tumbuh sebagai dua sosok pribadi berbeda.

Saat bertemu kembali seperempat abad kemudian, keduanya menyadari praktik keislaman mereka berbeda. Darma tumbuh sebagai laki-laki dewasa dengan keluarga yang mapan dan tergolong rajin beribadah. Namun, di mata Nur, praktik kesilaman teman waktu kecilnya itu lebih didasari tradisi yang tumbuh dalam masyarakat yang lebih dikenal sebagai kaum abangan di mana Darma berasal. Sementara Nur yang lahir dari keluarga santri dan lulus sarjana syariah (baca:fikih) selalu menyesuaikan tindakannya dari detail aturan fikih yang pernah ia pelajari.

Kedua orang itu tidak pernah bermimpi untuk lahir dari keluarga santri atau abangan. Takdir sosial (saya sering menyebut latar belakang sosial-budaya seseorang, Emile Durkheim menyebutnya sebagai fakta sosial) “memaksa” dua orang itu berpikir, merasa, dan berperilaku berbeda. Bagi Darma, Muslim yang baik ialah Muslim yang bisa mikul dhuwur mendem jero dengan melestarikan dan nguri-uri apa yang dulu diwariskan orang tua dan berbuat baik kepada sesama. Tidak demikian bagi Nur ketika melihat apa yang dipraktikkan masyarakat itu tidak sesuai ajaran Islam (fikih).

Pembaca tentu berbeda-beda dalam melihat dan menilai praktik keislaman kedua orang teman sepermainan tersebut diatas. Tiap pandangan demikian tentu sah-sah saja, tetapi adalah penting untuk melihat dari sisi Darma di satu pihak dan Nur di pihak lain sendiri. Seringkali seseorang menjadi pengikut NU atau Muhammadiyah lebih karena takdir sosial seperti Darma dan Nur tersebut diatas. Amat jarang karena pencarian yang disadari seseorang memilih sebagai pengikut salah satu dari dua organisasi Islam tersebesar di negeri ini.

Lebih rumit lagi adalah bagaimana ragam dan perbedaan dalam praktik keislaman pemeluk Islam di dunia, juga di negeri ini. Di mata seorang seniman, fakta keragaman itu adalah keindahan yang bisa dilukis dalam sejumlah bait syair atau selembar dan berlembar kanvas. Allah tentu berkuasa mengubah latar belakang sosial semua orang sehingga seragam lalu tumbuh sebagai manusia dengan perilaku keislaman yang seragam pula. Tapi, inilah tampilan indah realitas agar semua saling menimpa dan saling belajar. Akhirnya, bukankah Allah sendiri yang menjadi hakim penentu siapa ahli surga nanti?

Seorang atau kelompok orang bisa tergolong berada dalam kesadaran Islami walaupun tidak pernah memenuhi lima rukun Islam: syahadat, shalat, puasa, zakat, dan haji. Kesadaran Ilahi dan Islamnya terlukis dalam karya sastra dan lukisan yang indah mempesona. Banyak orang dan masyarakat berperilaku Islami meski secara formal mereka menyatakan menolak sistem kepercayaan dan sistem ritual Islam. Ada orang atau sekelompok orang yang secara formal menyatakan beriman kepada Allah, secara fisik tampak memenuhi ajaran Islam, tapi tindakannya menyakiti orang lain dan membuat banyak orang menderita.

Seseorang atau sekelompok orang menjadi Muslim dan berbaiat kepada Rasulullah bukan akibat hukum fikih, melainkan terpeseona keindahan kemanusiaan dalam perilaku Rasul tersebut. Ilmu hukum fikih sendiri baru lahir sekitar satu abad sesudah Muhammad SAW wafat. Kemampuan kitab Al Quran berhasil mengungguli kitab-kitab sebelumnya lebih karena pesona keindahan sastra dan kesadaran kemanusiaan, nukan karena argumen hukum atau filsafat. Seringkali keberislaman dan keberimanan, kadang dan seringkali juga organisasi Islam menjadi sebuah berhala yang menghalangi seseorang untuk berbuat baik kepada sesama mengabdi secara total tanpa pamrih surgawi kepada Allah.

Islam bisa dibaca dan dipahami dari sudut verbal dari dokumen tertulis dari kotab suci dan Sunnah rasul atau pendapat para ulama berkaitan dengan sumber verbal tersebut, tapi juga bisa dibaca dan dipahami dari fakta sosial dan kesejarahan apa yang dilakukan penganutnya. Pemahaman dari dua cara atau model itu hasilnya bisa berbeda, mungkin saling bertentangan.

Adalah Taufik Abdullah yang, antara lain, mencoba membaca dari sudut pandang kedua sehingga diperoleh ragam Islam yang ia sebut Islam universal, yang di mana pun pada dasarnya sama (ini mirip Islam verbal). Lalu, Islam regional yang berkembang di suatu kawasan, misalnya timur Tengah atau Asia, Eropa, Afrika, Amerika, dan Australia.

Masing-masing Islam secara relatif berbeda sesuai sejarah masuk dan berkembangnya Islam di akawasan tersebut dan siap elite berpengaruh di dalamnya. Terakhir ialah Islam lokal yang berkembang di suatu daerah seperti di Indonesia dengan sub-sub daerahnya, seperti Sumatra, Jawa, Sulawesi, Kalimantan, Papua, dan Nusa Tenggara, atau Maluku. Masing-masing Islam daerah ini unik dan relatif berbeda satu dan lainnya. Nah, Islam yang terakhir inilah yang bisa disebut Islam kultural atau Islam budaya.

Demikian pula keberislaman seseorang atau sekelompok orang. Oleh karena itu, daripada menyebut orang lain yangberbeda tradisi praktik keislamannya akan masuk neraka, mungkin lebih baik sebaliknya sehingga jika itu didengar Allah sebagai sebuah doa akan lebih indah. Kadang menjadi pengikut Jabariah atau Murjiah itu perlu, karena pada akhirnya hanya Allah yang menentukan seseorang akan menjadi ahli surga atau bukan.

Hidup susah karena miskin, menjadi  lebih susah lagijika saling berebut mengklaim diri ahli surga sembari memasukkan orang lain sebagai calon ahli neraka. Lebih indah jika bisa maju bersama dari sudut berbeda, bekerja keras mengelola bumi Tuhan sehingga bisa menjalani hidup lebih maju, makmur, dan sejahtera. Sekaligus membuktikan bahwa meyakini Islam sebagai ajaran yang benar, bukan hanya dijamin Allah, melainkan juga bisa hidup berkecukupan dalam damai bersama seribu keyakinan berbeda.

*) Penulis adalah Guru Besar Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Selasa, 28 Februari 2012

KELUHAN ALAM

Oleh: K.H. A. Mustofa Bisri



Tuhan,
lihatlah betapa baik kamu beragama negeri ini.
Mereka terus membuatkan-Mu rumah-rumah mewah
di antara gedung-gedung kota
yang ada di tengah-tengah sawah
dengan kubah-kubah megah
dan menara-menara menjulang
untuk meneriakkan nama-Mu
menambah segan dan keder hamba-hamba kecil-Mu
yang ingin sowan kepada-Mu.

Mereka yang Engkau anugerahi kekuatan
seringkali bahkan merasa diri Engkau sendiri.
Mereka bukan hanya ikut menentukan ibadah,
tapi juga menetapkan siapa ke surga, siapa ke neraka.
Mereka sakralkan pendapat mereka
dan mereka akbarkan semua yang mereka lakukan
hingga takbir dan ikrar mereka yang kosong
bagai perut beduk."

"Mereka bahkan dengan berani mambawa-bawa nama-Mu
untuk menghancurkan nilai-nilai ajaran-Mu yang mulia.
Atas nama-Mu mereka meretas tali persaudaraan yang
Engkau suruh jalin.
Atas nama-Mu mereka menyebar kebencian yang
Engkau benci."